Monday, May 26, 2014

DESIRES

 

"aku ingin begini...
aku ingin begitu...
ingin ini, ingin itu banyak sekali..."

Taruhan, deh! Pasti bacanya sambil nyanyi..;-)

***
meskipun hanya sekedar lagu anak-anak, tetapi baru-baru ini saya menyadari kalau lagu "legendaris" ini punya arti yang cukup dalam (ceilee..dalam...).
Bagi yang memaknai dan merenungi liriknya, maka lagu ini tidak lagi sekedar menjadi lagu anak-anak yang riang dan ringan, tetapi malah justru menjadi sebuah sindiran.
Iya kan? Ngaku aja,deh..
***
Manusia mana di dunia yang tidak punya keinginan sama sekali? Terutama yang sifatnya duniawi.
Misalnya nih ya, mungkin kalian punya keinginan-keinginan seperti di bawah ini;

Saya pengen punya pacar yang cakep, tinggi, putih kaya' artis korea. *eh
Saya pengen dapat beasiswa master di luar negeri, minimal aussie.
Saya pengen 
nanti kerja di tempat elit dan dapat posisi yang keren juga.
Saya pengen travelling tiap weekend, kalau bisa ke luar negeri.
Saya pengen itu...Saya pengen ini...begitu, begini...

Bagaimana dengan keinginan saya? Yaah..seandainya saya tuliskan satu-satu keinginan saya, mungkin sudah jadi setebal kamus besar bahasa Indonesia (isn't it too much?).
Yup. I  believe that every human born with a heaps of desire and dreams.Bedanya, ada yang berambisi ada yang tidak. Susah juga kalau sudah ada embel-embel ambisinya.

"Ambisi? Ah, nggak kok...biasa aja".
Yakin, biasa aja? Tapi kok galau?

Ketika saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah itu ambisi atau bukan, seperti itulah jawabannya. Ngeles. Ngomong-Ngomong, susah lo jujur sama diri sendiri itu. Coba aja.
***

"Suffering comes mostly from desire, and not only from pain"
begitu kata salah seorang penulis favorit saya. Dan itu benar sekali. Pertama kali membacanya, rasanya "jleb"Nancep di hati.
Salah satu tanda bahwa keinginan-keinginan kita selama ini ternyata ambisi adalah, ketika kita merasakan bahwa itu menyiksa dan membuat kita merasa tidak tenang. Gelisah, khawatir, dan ketakutan kalau-kalau keinginan itu tidak akan terwujud. Semakin banyak keinginan, semakin besar pula rasa takut itu.
Percaya?
Saya sih percaya, karena sudah merasakan sendiri.
***
Nggak salah, kalau kita punya banyak keinginan. manusiawi. yang salah adalah ketika pada akhirnya keinginan-keinginan itu malah membebani dan menyiksa diri sendiri gara-gara si ambisi itu. Apalagi ketika pada akhirnya keinginan itu nantinya tidak terwujud. Percaya deh, keinginan dan impian yang ada embel-embel ambisi itu nyesek.
***
Pada akhirnya, lama-lama kita akan merasa lelah dengan semua keinginan itu. Dan ketika fase itu terjadi, kita akan mulai membuat "penawaran" dari apa yang selama ini kita inginkan ;

Saya pengen punya pacar yang cakep, tinggi, putih kaya' artis korea. X Ah, nggak perlu segitunya deh, yang penting orangnya baik.
Saya pengen dapat beasiswa master di luar negeri, minimal aussie. Univ lokal juga nggak apa deh, yang penting ilmunya.
Saya pengen nanti kerja di tempat elit dan dapat posisi yang keren juga. X Kerja di mana aja boleh, yang penting bisa hidup cukup dan mandiri.
Saya pengen travelling tiap weekend, kalau bisa ke luar negeri. X Yang penting tiap weekend bisa ngumpul sama keluarga udah cukup.

Sekalipun sudah ada penawaran seperti di atas tadi, tetap saja itu semua adalah keinginan. Keinginan yang sudah ditawar. Dan penawaran-penawaran seperti itu masih akan terus terjadi sampai pada akhirnya keinginan-keinginan itu mungkin sudah tidak kita inginkan lagi.

***
Ada saatnya kita berkata (atau mungkin bernyanyi);
"aku ingin begini, aku ingin begitu..."
Tetapi akan ada saatnya juga kita hanya akan berkata;
"Ah, begini saja sudah cukup"
***

Friday, January 24, 2014

Pintar; Antara Absurd dan Relatif

 

Apakah anda termasuk orang pintar? Merasa pintar? Atau dianggap pintar? Apa sih pintar itu? Bisakah anda memberitahu saya  definisi pintar yang benar-benar tepat? Karena sampai sekarang saya masih tidak mengerti pintar yang sesungguhnya seperti apa dan bagaimana. Apakah "orang pintar" itu memang benar benar pintar? Setahu saya orang pintar itu tahunya hanya klenik-klenik begitu. Iya toh? Einstein pintar? Mereka bilang einstein jenius. Dan katanya jenius beda dengan pintar. Benar begitu?

Seorang anak waktu sekolah dasar sering rangking 1 di kelas. Orang-orang bilang; "duh..pinter banget sih anak itu". Tapi waktu beranjak sekolah menengah sudah tidak pernah rangking 1. Boro-boro rangking, prestasinya malah menurun. Kemudian orang-orang bilang; "padahal dulu pinter loh...".

Jadi pintar itu sifatnya temporer ya?

Ada lagi, si A hasil test IQnya 120. kemudian orang-orang bilang; "wiih..IQnya tinggi ya..berarti dia pinter. Tapi kok nilai rapornya biasa biasa aja?"

Jadi pintar itu...Apa?

...

Seorang dosen pernah bertanya pada saya ketika ujian lisan sebuah mata kuliah;

"Kok gak bisa jawab? Kamu dulu waktu saya ajar termasuk pintar kan?"

Eh. Agak kaget juga ditanya seperti itu. Darimana beliau menilai saya pintar? Nama saya saja mungkin beliau tidak hafal. Nilai mata kuliah beliau saja saya selalu dapat c. Dan lagi, saya pernah ketahuan tidur di kelas pada salah satu mata kuliah beliau. Sekarang saya di kira pintar? Pasti beliau salah orang. Dan akhirnya, saya menjawab (dengan berlagak pilon) ;

"Eee...bukan Pak..saya nggak pinter kok.."

"Oh, jadi bukan termasuk pinter..." Balasnya.

Dan pembicaraan berakhir begitu saja. Awkward. Tapi lucu juga sih.

...

Itu dosen pertama, yang selama hampir 4 tahun masa kuliah saya (pada waktu itu) yang bilang saya pintar (meskipun mungkin si bapak salah orang). Terlepas dari beliau salah orang atau tidak, sebagai mahasiswa rata rata, yang tidak pernah menonjol baik di kelas apalagi organisasi (karena saya tidak ikut organisasi apa-apa) dibilang atau disangka pintar oleh seorang dosen kawakan rasanya "sesuatu banget". Rasanya saya hampir mencapai puncak tangga teratas hirarki kebutuhan manusia (cuma hampir, lalu terpeleset lagi ke bawah); aktualisasi diri. Pengakuan.

Dengan adanya sangkaan bahwa saya termasuk pintar tadi, semakin absurd definisi "pintar" itu sendiri bagi saya.

...

Pernah saya bertanya pada diri sendiri;

"Apa iya, saya ini memang pintar?"

Entah. Saya sebenarnya tidak pernah merasa pintar. Malah cenderung minder. Waktu saya masih sekolah dasar, matematika saya sangat jelek. Parah. Langganan dapat "kursi" dan "bebek". Pernah juga dapat nilai "telur". Sering di hukum berdiri di depan gara gara tidak mengerjakan PR. Waktu SMP pun begitu. Sejak saat itu saya sempat beranggapan bahwa orang pintar itu, yang nilai matematika, fisika, dan kimia nya bagus. Orang pintar itu yang pintar hitung-hitungan. Meskipun lama-lama persepsi sempit saya itu terkikis, tetapi makna pintar itu masih tetap tidak jelas. Apalagi setelah saya tahu hasil test IQ pada saat saya SMA. Dari hasil test IQ untuk pemilihan jurusan itu, ternyata IQ saya rata-rata. Saya lupa jumlahnya. Tapi yang jelas hasilnya sangat rata-rata. Kurang sedikit saja, bisa di bawah rata-rata. Sementara saya lihat teman saya yang malas, nilai biasa saja, kadang juga PR nyontek saya, skor nya malah termasuk kategori superior. Jadilah saya sedikit down pada waktu itu. Sampai-sampai Ayah saya merobek dan membuang hasil test IQ itu agar saya tidak tertekan dan semakin minder (rasanya terharu juga kalau mengingat momen itu).

...

Tragedi skor test IQ sudah lama lewat. Saya kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Saya mahasiswi biasa. Tidak menonjol di kelas. Tidak aktif di organisasi apapun. Tidak populer di antara teman-teman plus IP naik turun tiap semester dan IPK pas-pas an (yang penting ada angka 3 di depan, untuk modal melamar ke perusahaan :p ). Kalau dosen saya tahu hal-hal tersebut, apakah beliau masih akan mengira saya pintar? Kalaupun iya, mungkin beliau hanya mengejek saya dengan halus.

...

Baru-baru ini, ada lagi yang bilang saya pintar. Dan penyampaiannya lebih meyakinkan daripada dosen sebelumnya yang kemungkinan salah sangka dan salah orang. Bahkan bukan sebuah pertanyaan tetapi pernyataan. Beliau juga dosen saya. Termasuk dalam daftar dosen "top class" di jurusan saya. Kejadiannya pada saat sidang skripsi dan ujian kompre waktu itu. Ketika saya selesai menjelaskan isi skripsi saya, kemudian beliau bertanya;

"IPK kamu berapa?" sambil membolak-balik berkas ujian saya.

"3,08 Pak". Jawab saya singkat.

"IPK kamu kok kecil sih, padahal menurut saya kamu ini pinter lo,"

"Eh? Beneran Pak?" Lagi-lagi saya cuma bisa berlagak pilon.

"Iya, betul. Saya tidak pernah salah menilai orang. Keliatan dari cara bicara kamu". Jawabnya serius.

Seketika itu juga tiba-tiba saya jadi emosional. Terharu pada waktu itu. Dan itu di luar kendali saya. Saya bukan orang yang ekspresif dan saya jarang menunjukkan emosi, terlebih lagi di depan orang yang tidak saya kenal baik. Malah banyak yang bilang saya cenderung dingin dan tidak peka. Tapi entah kenapa ketika keluar pernyataan seperti itu, mata saya malah berkaca-kaca. Bukan karena takut menghadapi dosen penguji yang killer semua. Murni terharu.

Mungkin kalian akan menganggap saya berlebihan. Saya sendiri juga tidak ingin seperti itu, lebih-lebih di depan penguji. Malu sekali. Tetapi semua terjadi begitu saja, out of my control. Saat itu juga saya benar benar berada di anak tangga teratas hirarki kebutuhan manusia. Bukan hanya "hampir" seperti sebelumnya, tetapi sudah benar-benar berada di puncak, meskipun apa yang saya rasakan itu cenderung impulsif dan tidak berdasar. Maklum, namanya saja lagi emosional.

...

Kendati demikian, pernyataan dosen saya itu tidak lantas membuat saya mengerti makna pintar yang sebenarnya. Karena toh, pernyataan tadi pun tidak mengubah IPK saya jadi cum laude. Saya masih tetap mahasiswi biasa. Sampai sekarang saya lulus pun, saya masih orang biasa. Masih belum bisa menjawab pertanyaan; "apakah saya memang pintar?" Mau berlagak sombong dengan terang-terangan menjawab; "iya, aku memang pintar kok" pun rasanya masih pikir-pikir. Mau merendah pun, rasanya tidak enak.

Saya tetap tidak tahu. Sampai sekarang pun, ketika saya menulis entry ini, tetap saja saya belum menemukan standar pintar itu apa dan bagaimana. Entah mungkin saya yang kurang riset mengenai definisi "pintar" atau  memang jangan-jangan tidak ada definisi yang pasti mengenai hal itu.

...

Terlepas dari definisi  yang ada di dalam kamus besar bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Prancis, dan semua kamus bahasa-bahasa dunia lainnya bagi saya pintar itu relatif dan cenderung absurd. Kata dosen saya, beliau menilai seperti itu dari cara  bicara saya (padahal saya dikenal paling tidak pandai merangkai kata untuk bicara).

Berarti pintar itu orang yang pandai bicara dong?

Maka dari itulah, mengapa pintar saya katakan relatif dan kadang absurd. Orang "pintar" di dunia ini banyak. Pintar matematika, pintar sejarah, pintar bicara, pintar mengambil hati orang, pintar masak, pintar nipu, pintar korupsi, dan banyak pintar-pintar lainnya. Pintar tidak melulu soal akademik. Kalau pintar memang hanya soal akademik berarti "pintar" ada standarnya, kan?

Jangan terlalu bangga disebut orang pintar, kalau belum tahu, anda itu pintar apa. Lagipula tidak seharusnya pintar itu di deklarasikan.

...

Apa yang saya tulis ini pasti absurd menurut kalian. Maaf ya mungkin terkesan tidak bertanggung jawab, tetapi saya sendiri saja juga tidak begitu mengerti arah tulisan ini kok..hehehe. Bukan maksud saya sok sok menunjukkan secara implisit kalau "saya ini pintar lo". Sumpah, saya bukan orang pintar. Jangan pedulikan perkataan dosen-dosen saya sebelumnya. Beneran, saya ini biasa-biasa saja. Di sini, Saya hanya menuangkan ide yang saya punya. Daripada lama-lama mengendap di otak, sayang kan kalau ide itu menguap dan hilang? :)

...

*mengenang ujian kompre penuh hikmah sebulan yang lalu.

Sunday, December 29, 2013

BLESSING IN DISGUISED

 

Baru-baru ini saya menambahkan sebuah momen ke dalam "milestone" kehidupan saya. Momen yang bagi saya sangat kontradiktif dengan momen-momen sebelumnya dalam "milestone" tersebut. Momen yang membuat grafik milestone saya, yang sebelumnya cenderung stabil (hanya ada sedikit dinamika yang tidak mencolok) menjadi seperti grafik harga saham yang naik turun dan fluktuatif.

...

Hmm...

Momen apa sih?

...

O y, sebelumnya, bagi kalian yang sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan ini, mungkin akan menganggap saya terlalu banyak memakai metafora-metafora, atau lebih parahnya, kalian menganggap saya penganut "vickinisasi"?

Aduh..,

Jangan pakai anggapan yang kedua dong...

Hehe..

...

Jadi sebenarnya, awal dari momen yang saya tuliskan di milestone tersebut adalah ketika saya mengikuti ujian tugas akhir (skripsi) dan pendadaran atau ujian kompre. Di kampus saya, khususnya jurusan akuntansi, tempat studi saya selama ini, ada rumor (yang saat ini saya sadari telah menjadi suatu fakta) yang mengatakan bahwa dari 10 mahasiswa yang ujian tugas akhir, 7 diantaranya biasanya tidak lulus ujian kompre dan harus mengulang bulan berikutnya. Bagi saya pada saat itu, rumor tersebut hanya mitos, meskipun memang ada beberapa teman yang harus mengulang ujian kompre untuk ke sekian kalinya. Meskipun begitu entah mengapa saya tidak pernah ambil pusing dengan hal semacam itu. Entah saya yang terlalu optimis, atau terlalu percaya diri, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi pada saya.

...

Singkat cerita, pada akhirnya saya telah dijadwalkan untuk mengikuti sidang skripsi dan ujian kompre. Pada waktu itu 23 Desember 2013. Melihat daftar nama penguji saya pada saat itu, sempat terbersit keraguan dan rasa cemas karena saya kebagian tim penguji yang isinya dosen "top class", "well ranked" dan memakai istilah saya sendiri ; "silent killer". Silent Killer; seolah tenang, ramah, tetapi..

"jleb"!

They will stab you suddenly at the end. (maaf ya, Bapak dan Ibu penguji..mungkin istilahnya terlalu berlebihan, tetapi istilah "Top Class" dan "Well Ranked" itu bukan sinisme dari saya, kok. I Swear ^^v).

...

Tidak ada suasana tegang, perdebatan panas, bullying, tekan menekan mental, wajah-wajah judes, apalagi acara banting skripsi (karena mungkin topiknya pasaran) di ruangan itu.

Everyone seems in a goodmood, creating a nice atmosphere.

Beliau beliau yang semuanya dosen muda, duduk berhadapan dengan saya. Pertanyaan demi pertanyaan, yang diselingi intermezzo mengalir dan saya jawab sebisa mungkin. Saya merasa lancar menjawab pertanyaan pertanyaan itu (meskipun mungkin pada saat itu saya tidak tepat dalam memberikan contoh aplikatif teori yang ditanyakan dalam ujian kompre). Dan saya yakin saya akan langsung lulus saat itu juga.

...

Sampai tiba saatnya untuk skorsing. Saya diminta keluar dan menunggu keputusan dari tim penguji. Agak takut juga sih. Tetapi waktu itu saya mencoba untuk tenang dan optimis.

Dan ketika saya dipanggil lagi untuk masuk ke ruang ujian,..

Masih dengan wajah ramah dan penuh senyum, mereka mengumumkan bahwa...

Saya lulus untuk skripsi, tetapi harus mengulang untuk kompre.

"Selamat ya, setidaknya skripsimu lulus" kata salah satu penguji, sambil tersenyum dan menjabat tangan saya. Sementara saya tidak bisa berkata apa apa. Speechless dan gamang. Saya hanya bisa menjawab lirih;

"I..Iya Pak..terimakasih" (sampai-sampai mungkin si Bapak tidak bisa mendengarnya).

...

Saya pun keluar dengan membawa berita acara kelulusan yang kosong. Well, I've been suddenly stabbed. And then I realize that it wasn't a myth anymore...

Sebenarnya tidak terlalu sedih juga, karena pada hari itu, dari 16 orang yang ujian, hanya 4 atau 5 saja yang langsung lulus.

...

Still, it was so disappointed.

...

Itulah yang terjadi.

Saya tidak akan membahas mengenai mengapa di jurusan saya ada hal semacam itu, entah itu konspirasi atau budaya yang sengaja dibuat untuk menciptakan suatu image tertentu di jurusan saya. Itu urusan mereka (Yaah..meskipun sebenarnya ingin juga sih membahas itu :p).

..

Kecewa berat? Pasti.

Beberapa hari itu pikiran saya galau dan gamang.

Meskipun orangtua saya  santai santai saja dan bisa menerima, tetapi entah mengapa saya sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan. Selama ini saya tidak pernah mengalami suatu kegagalan yang berarti, walaupun belum juga ada pencapaian atau keberhasilan yang berarti. Sepanjang catatan dalam milestone saya yang cenderung datar dan stabil, tiba tiba ada fluktuasi. Fluktuasinya tidak begitu menggembirakan. Rasanya lebih mengecewakan daripada perasaan yang bertepuk sebelah tangan..

(eh, kok jadi mellow begini sih? -_-).

...

Selama hari hari galau itu juga, saya banyak menerima nasehat nasehat dan masukan dari orangtua yang tujuannya sebenarnya untuk menghibur saya. Dan dari sana juga saya merenung, memetik hikmah dari kejadian ini.

...

Hidup ini tidak selamanya berjalan mulus dan datar datar saja. Suatu saat perubahan itu mutlak, entah itu perubahan yang memang kita buat sendiri, atau perubahan yang terjadi dengan sendirinya, di kala kita mengharapkan segala sesuatu untuk tetap sama. Ketika selama ini kita merasa hidup kita berjalan mulus mulus saja, tetapi suatu saat kita mengalami suatu kejadian yang mengecewakan, seperti kehilangan atau kegagalan, itu berarti Tuhan sedang mengajari kita, bagaimana menghadapi ujian-ujian hidup di masa yang akan datang, yang mungkin akan lebih berat daripada yang kita alami sekarang. Bukankah ujian itu bertahap sesuai tingkatan kita, dan Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan kita.

...

Terkadang Tuhan "memaksa" kita untuk keluar dari zona nyaman yang kita diami selama ini untuk membuat kita lebih kuat nantinya.

Sepanjang Milestone saya yang datar dan stabil selama ini adalah zona nyaman selama ini. Kemudian ada saat dimana saya mengalami kegagalan dan itu adalah saat di mana Tuhan mengeluarkan saya dari comfort zone tersebut.

Dan lagi,

Kekecewaan merupakan interval antara harapan dan kenyataan. Semakin tinggi harapan, ketika harapan itu tidak terwujud (kenyataan) maka kita akan "sakit" karena terjatuh dari "tempat tinggi". Awalnya, saya memang terlalu berharap lebih bahwa saya akan langsung lulus, dan mungkin tanpa saya sadari pada saat itu saya telah sombong.

...

Apa yang saya tulis di sini, tidak bermaksud untuk menyinggung salah satu pihak. Dan saya tidak peduli apabila ada yang menganggap tulisan saya terlalu berlebihan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada kalian yang mungkin tengah mengalami kekecewaan serupa. Dan saya berharap, tulisan ini akan sedikit menghibur kalian :)

...

Setiap kekecewaan yang terjadi pada kita adalah rahmat yang tersembunyi ; Blessing in Disguise.

So, reveal the disguised one, and find the blessing :)

...

Jember, akhir Desember 2013

Friday, July 12, 2013

Filosofi

 

Alogia,

ada yang tahu artinya?

atau setidaknya, pernah denger kata 'alogia' nggak?

mungkin anda jarang mendengar istilah ini,

tapi saya yakin, orang psikologi pasti ngerti :)

 

Dan saya menemukan istilah ini secara tidak sengaja di google,

ketika browsing tentang skizofrenia.

Browsing tentang Skizofrenia? buat apa?

apakah saya skizo?

atau ada kerabat yang skizo?

atau saya mahasiswa psikologi yang sedang browsing untuk ngerjain tugas?

Bukan dua-duanya,

Saya bukan mahasiswa psikologi, saya nggak punya kerabat yang skizo, apalagi saya sendiri yang skizo,

(saya hanya orang awam yang tertarik dengan psikologi).

 

Ternyata Alogia adalah salah satu gejala Skizofrenia.

Setelah mengetahui sedikit maknanya, saya merasa inilah kata yang tepat untuk menggambarkan blog saya dan juga sedikit banyak tentang diri saya sendiri :)

 

Jadi, sebenarnya Alogia itu adalah ;

"In psychology , alogia (Greek α-, “ without ”, and λόγος, “speech” ), or poverty of speech , is a general lack of additional, unprompted content seen in normal speech "  -Wikipedia

 

Sederhananya,

Alogia adalah keadaan di mana seseorang sangat sedikit dalam berbicara, seseorang yang tidak bisa bicara banyak dan ketidak-bisaannya itu mengarah ke perilaku abnormal,

 

Hmm...

lalu apakah blog saya ini isinya cerita abnormal? dan penulisnya (saya) juga abnormal?

bukan begitu...(tapi sah-sah saja bila anda menyebut isi blog ini 'abnormal', karena itu relatif).

saya hanya mengambil secuil makna dari alogia yang kemudian saya sederhanakan dengan pemikiran saya sendiri,

 

Blog ini, beserta cerita-cerita di dalamnya,

adalah kata-kata yang tidak terucap,

akumulasi dan rangkaian kata-kata yang sulit untuk saya 'suara-kan',

 

Mengapa?

 

karena saya bukan orang yang pandai bicara dan mengungkapkan cerita-cerita,

saya 'miskin' dalam bicara,

(tapi tak berarti bisu) :)

 

M.I.F 2013 

Sunday, May 27, 2012

H.O.M.E

 

"Another summer day,Has come and gone away... In Paris and Rome, But I wanna go home...Mmmmmmmm.."(Home, by: Michael Buble) 

.... 

Home. House.secara harfiah memang semua artinya merujuk pada suatu benda fisik berupa bangunan dengan tembok, atap, pintu, dan jendela. dan dalam bahasa kita itu adalah "RUMAH". hanya "RUMAH". tetapi satu kata itu memiliki penafsiran yang beragam. bahkan mendalam. Mungkin anda juga pernah mendengar bahwa "HOME" dan "HOUSE" memiliki penafsiran yang berbeda. "HOUSE" adalah kata yang merujuk pada bentuk fisik dari rumah itu sendiri. seperti yang telah disebutkan sebelumnya. sebuah bangunan dengan tembok. atap,pintu, dan jendela. tetapi "HOME" lebih mengarah pada makna psikis dari rumah itu sendiri. Umm..yaah...memang sedikit sulit untuk mendeskripsikannya. 

 

Makna "Home" lebih cenderung kepada isi sebuah rumah. isi? apakah kursi, meja, ataupun perabot-perabot indah di rumah? ooh..tentu saja bukan! isi yang dimaksud adalah orang-orang yang ada di dalamnya. "Keluarga":). itulah mengapa dalam bahasa inggris "pulang" adalah "go home". masih sulit memaknainya? bagaimana dengan peribahasa ini; "A House is build by hand,but a home is build by heart" (semoga penulisan bahasa inggrisnya tidak salah..:S) atau kalau ingin lebih dramatis, dengarkan saja lagu dari sepenggal lirik di atas..:D 

.... 

bicara soal rumah, saya selalu tertarik dengan sesuatu yang berkaitan dengan rumah. mulai dari bentuk rumah itu sendiri, sampai dengan desain interior maupun eksteriornya. rumah dan segala tetek bengeknya selalu jadi topik menarik bagi saya. bahkan sewaktu masih SD dulu, saya bercita-cita ingin menjadi arsitek(namun akhirnya cita-cita itu pupus karena ternyata saya kelewat payah dalam matematika..hahaha..:P). namun walaupun cita-cita itu pupus, sampai saat ini rumah selalu membuat saya tertarik. apabila saya dalam perjalanan ke suatu tempat, entah itu pergi ke luar kota, atau sekedar di dalam kota bahkan di dekat-dekat rumah saya sendiri, saya selalu memperhatikan rumah-rumah yang saya temui di perjalanan. sambil memperhatikan, saya mulai berkhayal dan berpikir. ketika saya melewati rumah mungil dengan halaman yang luas, berumput rapi dan penuh tanaman saya berkhayal; "suatu saat nanti, ketika aku telah membangun kehidupanku sendiri, aku ingin punya rumah seperti ini". kemudian saya berjalan lagi, dan menemukan rumah yang lain, rumah yang berdiri megah, bertingkat, berpagar tinggi dengan pilar besar bak kastil kerajaan, khayalan yang tadi berganti lagi: "hmm..tapi tidak ada salahnya juga punya rumah model begini..". begitu seterusnya. khayalan itu terus berganti ketika saya menemukan rumah-rumah lain yang menurut saya menarik untuk dikhayalkan. tidak hanya berkhayal. saya juga selalu berpikir. atau lebih tepatnya membayangkan. ketika saya melewati rumah bergaya kuno dengan arsitektur peninggalan belanda, saya membayangkan tentang apa yang ada di dalam rumah itu. apakah semua barangnya juga kuno? apa saja ruang-ruang yang ada di dalamnya? apakah ada banyak ruang? apakah suasana di rumah itu hangat? kemudian, bagaimana rasanya apabila aku yang memiliki rumah itu? bagaimana jika aku yang tinggal di sana? apakah aku akan memiliki kamar sendiri? dan bagaimana nantinya aku akan menata kamarku? dan apakah aku punya cukup banyak ruang atau cukup luas ruang untuk menikmati waktu-waktu sendiriku? seandainya saja saya bisa jadi "invisible" dan dengan mudahnya bisa keluar-masuk untuk mengobservasi apa yang ada di dalam rumah-rumah itu. :D 

.... 

entah mengapa saya selalu antusias dan selalu berkhayal begini-begitu tentang rumah yang saya temui di jalan. saya juga tidak pernah keberatan apabila ada yang sekedar mengajak saya "muter-muter" tidak jelas atau istilahnya "cari angin". apalagi ke daerah yang belum pernah saya kunjungi. karena di sana pasti akan ada lagi rumah-rumah yang menarik hati. Dan ternyata, kebiasaan ini ada buruknya juga. kebiasaan ini terkadang membuat saya jadi kurang bersyukur dengan rumah saya sendiri. sering juga timbul dalam pikiran saya; "seandainya rumahku punya halaman luas berumput hijau,..seandainya rumahku megah dengan pagar tinggi yang kokoh,..seandainya juga ruang-ruang di rumahku lebih luas dan lebih banyak..." 

seandainya rumahku begini.... 

seandainya rumahku begitu... 

seandainya rumahku seperti rumahnya... 

seandainya rumah itu milikku.... 

dan "sendainya-seandainya" lain yang tidak realistis, haha..:D 

.... 

tetapi setelah kini saya hidup "sedikit" jauh dari rumah (selama ini saya tidak tinggal dirumah saya sendiri, karena saya berkuliah di luar kota yang jaraknya hanya satu jam dari kota tempat rumah saya)ada satu hal yang saya mengerti. apalagi setelah tahu betapa sedihnya apabila mereka (teman-teman kampus yang indekos jauh sekali dari kampung halamannya) mulai merasa rindu dan kemudian tiba-tiba semua yang ada di sekitarnya terasa asing, dan ketika mereka ingin bertemu dengan keluarga untuk melepas rindu,ternyata tidak bisa pulang. terlebih lagi ketika mereka ada dalam keadaan tertekan dan butuh dukungan keluarga. saya yang tinggal di rumah saudara saja terkadang masih merasa seperti itu,apalagi bagi mereka yang hanya indekos? satu hal yang akhirnya bisa saya mengerti mengenai rumah itu adalah; 

 

 "rumah bagi saya adalah "HOME" bukan "HOUSE". rumahmu adalah tempat dengan pintu yang selalu terbuka untukmu. selama apapun kamu meninggalkannya, sejauh apapun kamu pergi darinya, tempat yang selalu menunggumu pulang, dan tempat yang tidak akan pernah membuatmu merasa asing" 

 ....

 home sweet home 

rumahku, surgaku 

baiti, jannati...:) 

....

 "And I’m surrounded by A million people

 I Still feel all alone Oh, let me go home 

Oh, I miss you, you know"(Home, by: Michael Buble)

 

Tuesday, October 4, 2011

M I M P I; Sebuah satire asal tulis untuk diri sendiri...

 

Prologue:
Mimpi. Impian. Bermimpi.
Salah satu hal yang semua orang bisa melakukannya. Tanpa perlu skill khusus. Tanpa perlu sekolah tinggi sampai botak. Dan yang paling penting; tidak perlu mengeluarkan duit se-sen pun.

***

Mimpi. Kata kunci yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap. coba saja,ada berapa banyak judul buku ataupun novel best seller yang berbasis mimpi atau impian penulisnya? Dan impian yang tertuang di atas kertas itu pada akhirnya menuju pada pencapaian yang gemilang. Menginspirasi banyak orang,dan menumbuhkan mimpi-mimpi baru.
Dan sebuah impian bahkan bisa mengubah dunia...

Tetapi terkadang kita merasa mimpi-mimpi yang telah kita rencanakan dan rancang sedemikian rupa,pada akhirnya harus kita kubur lagi dalam-dalam. Atau mungkin impian itu yang lari meninggalkan kita. Bisa juga impian itu mati suri. Dan bahkan benar-benar mati. Lalu hilang. Mengapa?
Ada seseorang yang menjawabnya demikian;
“karena saya tidak bisa menemukan jalan untuk menuju ke impian itu. Karena saya dipaksa untuk berbelok ke arah yang bukan menuju impian saya. Dan mimpi itu perlahan menjauh,lalu hilang. Saya kehilangan cara untuk mewujudkannya”
Bagaimana dengan anda? Jawaban apa yang akan anda berikan?

Pernyataan di atas tadi tentunya adalah pernyataan ironis dari orang yang kehilangan mimpinya. Orang yang sebenarnya tidak salah jalan. Tapi dia tidak menemukan jalan untuk menuju ke mimpinya. Dia dipaksa atau mungkin terpaksa berbelok ke jalan lain yang mengantarnya ke suatu tempat yang asing. Dan dia jadi tidak punya cara untuk mewujudkan impiannya.

Lalu tibalah dia di sana. Tempat yang sama sekali asing. Menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kebingungan. Tidak tahu apa-apa. Lalu pada akhirnya hanya bisa menundukkan kepala. Sedih. Dia kehilangan impian lamanya. Seperti orang patah hati...

Padahal,bila diibaratkan sumber daya,impian itu termasuk sumber daya yang dapat diperbarui. Alias tidak akan ada habisnya. Seperti air,sinar matahari,dan udara. Gratis,tidak pernah habis,dan ada di mana-mana.

Ya,..
Gratis,tidak pernah habis,dan ada di mana-mana. Kemana pun kita pergi,di mana saja kita tersesat,kita akan selalu medapatkan udara. Sebesar apapun volume udara yang kita hirup juga tidak akan membuatnya habis,dan tidak akan ada yang akan menarik bayaran dari itu semua.

Begitu juga impian. Jalan yang berbeda,dan tempat yang asing,mungkin membunuh impian lama kita. Tetapi impian bisa ditemui di mana saja. termasuk tempat yang asing itu. Dan ternyata di tempat yang asing itu dapat ditemukan mimpi-mimpi yang baru. Yang siap untuk diwujudkan dengan cara yang baru.

Mimpi-mimpi untuk diri sendiri. Juga mimpi-mimpi untuk orang lain disekitar kita,..
orang-orang yang berarti...

***
Epilogue:
Tidak perlu menertawakan impian orang lain,karena setiap impian itu tetap indah bagi yang memimpikannya...:)

 

Wednesday, June 22, 2011

GERIMIS AWAL DESEMBER

Awal Desember. Langit mengganti lazuardinya jadi putih kelabu,menyembunyikan matahari yang sedang malas. Membuatnya jadi muram. Udara terasa lebih dingin. Bumi yang ini jadi basah. Sementara di belahan bumi lain jadi putih di mana-mana. Orang-orang jadi malas beraktivitas pula. Mereka lebih suka di rumah untuk tidur dan orang-orang dibelahan bumi lain itu akan duduk didepan perapian beralaskan karpet bulu yang hangat. Tetapi aku heran dengan mereka dibawah sana. Berlarian ke sana kemari,menendang,menggulirkan sesuatu yang bundar menggelinding di tanah yang keras,rata dan halus. Sementara disekelilingnya orang-orang yang lain bersorak-sorak,tak peduli dengan hembusan angin desember. Dan kejadian ini bukan yang pertama kali. Sudah beberapa hari ini aku menyaksikan hal yang sama. Bahkan ketika aku mulai ‘bertugas’,mereka seakan tak peduli dengan kehadiranku!

Malam ini aku kembali melaksanakan tugasku. Tepatnya masih belum. Aku masih di atas,dan terlihat dari sini mereka lagi-lagi ada di tanah keras dan rata itu. Tanah keras dan rata. Huuh! Aku paling benci apabila harus jatuh di tanah macam itu. Menyakitkan. Aku akan terpelanting lalu menggenang untuk waktu lama. Lebih parahnya lagi aku akan lebih sering terinjak-injak. Sepertinya malam ini aku akan jatuh disana lagi. Sesekali aku ingin jatuh ditanah yang gembur,lekas terserap,melewati siklus yang selalu sama dan kadang tersangkut di berbagai tempat. Terserap Akar tumbuhan,lalu keluar lagi lewat pucuk dedaun di pagi hari. Jalan yang berliku,namun akan kembali lagi menguap ke langit. Siapa aku? Apa pekerjaanku? Aku benda yang mati. Sebentuk zat. aku adalah setitik air yang terkadang menjelma sebagai rintik kecil gerimis,atau rinai hujan. Tapi beberapa hari ini aku masih melakukan tugas sebagai gerimis. Lebih kecil daripada gerimis. Aku tengah menjelma serpihan halus gerimis yang mudah ditiup angin. Desember masih dini. Belum saatnya menjadi rinai hujan.
Perintah dari langit sudah terdengar. Sudah waktunya terjun bebas. Semoga kali ini aku tidak terbanting ditanah keras itu. Dan...
Aku mendarat di permukaan yang lunak,berwarna hitam pekat dan menjuntai panjang. Aku tahu. Ini rambut di kepala seseorang. Seorang gadis.

***

“sudah mulai gerimis,” pemuda di sebelah gadis ini menggumam sambil menengadahkan tangannya.
“ya,aku tahu”. Jawab gadis berjaket ini. Hei! Seharusnya kau pakai tudung jaketmu! Karena aku dapat membuatmu pusing. Tapi aku sudah terlanjur mendarat di rambutmu. Semoga kau tidak pusing.
“masih mau disini?” tanya pemuda itu.
“pertandingan belum selesai,masih baru masuk babak kedua...” jawab gadis itu. Kali ini ia merapatkan jaketnya. Rupanya kau merasa dingin juga.
“ayo geser sedikit,tribun ini tak beratap...bagaimana kalau hujan?,” pemuda itu mengajaknya bergeser.
“ah! Masih gerimis halus...belum hujan kok...lagipula aku tidak akan bisa melihatnya dengan jelas kalau bergeser,” tolaknya.
“hhhh,” pemuda itu menghela nafas. “memangnya dia tahu kalau sejak kemarin kau nonton?”
“aku juga tidak tahu,sih...”
“jadi kau hanya sekedar berspekulasi? Nonton sambil dingin-dingin begini tanpa kepastian...? wuih! Dramatis sekali!” ujar pemuda itu sinis.
“yaah...setidaknya aku sudah memberitahunya sejak kemarin,bahwa aku akan datang melihat pertandingannya...”
“ck! Hanya memberitahu lewat jejaring sosial seperti itu bukan jaminan!”
“tapi dia membalas pesanku!”
“oh ya? Lalu apa katanya?”
“...’baiklah,lihat saja kalau memang kau ingin lihat’...”
“hanya itu? Kedengarannya datar-datar saja. Tidak ada kesan antusias dalam kalimatnya...”
“jadi maksudmu dia tidak peduli dengan kehadiranku? Dia tidak penasaran dan mencariku?”
“entahlah...” jawab pemuda itu.
Gadis itu terdiam. Lalu menghela nafas berat.
“ aku harap dugaan itu juga masih spekulasi. Bisa iya,bisa tidak. Tapi aku harap tidak...” ujar gadis itu dengan tatapan menerawang.
“semoga saja. Tetapi,apa kau hanya akan berdiam diri seperti ini terus? Terus-terusan ‘berbicara’ padanya lewat dunia maya? Padahal pesan yang kau kirim pun hanya sekedar basa-basi!’”
“bagaimana menurutmu? Aku perempuan,ruang gerakku terbatas. Tidak mungkin aku langsung menyatakan perasaan kan?”
“terbatas? Itu kan hanya pemikiran konservatif-mu! tidak ada salahnya juga kau bertindak,menunjukkan sedikit eksistensi-mu padanya. Berdiam terus juga percuma dan melelahkan! Dia bukan pangeran yang akan menghampirimu dengan sendirinya dan datang tiba-tiba seperti dongeng!”
“jadi apa yang harus aku lakukan?”
“lakukan dengan cara yang sesuai dengan pemikiran konservatif-mu itu!” jawabnya. Sepertinya kesal.
Gadis itu terdiam lagi. Kali ini seperti memikirkan sesuatu. sebenarnya situasi macam apa yang aku saksikan saat ini? ada apa dengan gadis ini? mengapa matanya tak lepas menatap orang-orang yang berebut benda bundar itu?
“GOLLLL!!!!!!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari orang-orang yang bersorak itu. Kali ini seruan itu lebih keras lagi.
“ lihat! Tim-nya menang! dia masuk semifinal! Lusa aku masih bisa melihatnya!” gadis yang sejak tadi diam terpaku,kini melonjak-lonjak. Membuat posisiku goyah,dan perlahan aku merosot mengikuti helai rambutnya,lalu akhirnya...
Aduh...Sakit!
Aku jatuh lagi di tanah yang keras dan rata.

***

Masih di awal desember. Lusa setelah malam kemarin. Seperti biasa aku masih di awan menunggu perintah dari langit. Kali ini aku akan menjadi rintik gerimis. Dan lagi-lagi aku harus bertugas di tempat yang gaduh ini. semoga aku tidak langsung terjatuh di tanah itu lagi. Aku berharap mendarat di atas permukaan yang lunak seperti rambut gadis yang kemarin. Hei,bagaimana kabar gadis itu ya? Bukankah dia akan datang lagi? Tetapi,siapa sebenarnya yang dia lihat di sini? Apakah seseorang di antara belasan orang-orang yang berebut benda bundar itu?

***


Lagi. Aku terjatuh di kepala seseorang. Tetapi rambutnya tidak menjuntai seperti gadis itu. Siapa lagi ini? oh! Rupanya seorang laki-laki,salah satu diantara orang-orang yang berebut benda bundar itu. Karena kali ini cukup deras,mereka berhenti. Akhirnya mereka sadar jugaakan keberadaanku.
“ aduh! Di tunda,deh!” nampaknya ia mengeluh karenaku. maaf,ini sudah perintah.
“ maklum-lah...musim hujan!” celetuk pemuda disebelahnya. “hei! Lihat!” lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh pemuda ini. hei! Hati-hati! Aku bisa terpelanting ke tanah itu!
“ iya. Aku tahu!” jawabnya.
“ dia selalu menonton sejak awal kita bertanding!”
“ aku juga tahu.” Jawabnya datar.
“ hmm..kau tidak menghampirinya? Lumayan kok...”
Pemuda ini tersenyum. Sesekali ia memandang ke arah seberang. Aha! Aku tahu! Mereka pasti membicarakan gadis yang kemarin. Apa benar orang ini yang gadis itu lihat?
“ entahlah...”
“ menurutku dia cuma ingin kau tahu...”
“ tahu apa?”
“ jangan pura-pura bodoh! Masa kau tidak bisa merasakan?”
“ ya,ya,ya! Aku tahu kok! Tapi apa kamu yakin,kalau dia...”
“ dia punya perasaan padamu!” potong pemuda disebelahnya.
“ tetapi dia hanya diam saja. Dia hanya mengirimkan pesan-pesan yang isinya basa-basi. Tidak ada yang berarti! Yaah,terkadang dia memberi semangat padaku. Aku juga merasa sedikit aneh...”
“ dia muncul tiba-tiba di hadapanmu,membuatmu heran, dan dia tidak pernah absen melihat kita bertanding,walau hujan sekalipun! Hei,asal kau tahu ya...aku sering memergokinya melihat ke arahmu saat kita break!”
“ benarkah? Lalu kenapa dia tidak menyapa atau menghampiriku?”
“ mungkin malu. Beberapa perempuan merasa ruang geraknya terbatas untuk mengekspresikan perasaannya saat ia menyukai laki-laki. Apalagi kau tak mengenalnya! Dan pesan-pesan yang dia tulis itu adalah cara yang dia pilih untuk berkomunikasi denganmu!”
“ begitu ya? Lalu aku harus bagaimana? Sementara aku mengharapkan seseorang yang lain untuk melihatku bertanding hari ini...,”
“hufth! Rupanya kau masih mengharapkannya! Pantas saja kau tidak peduli dengan gadis di sana itu!”
“kau dan gadis itu sama saja. Sama-sama mengharapkan seseorang yang tidak pasti. Dia mengharapkanmu,kamu mengharapkan orang lain. Padahal orang yang diharapkan itu sama-sama tak jelas! Yaah...dia pasti sakit hati bila tahu kau tidak peduli dengannya...”
“jadi menurutmu aku bersalah? Aku orang yang jahat? Aku tahu sakitnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan,aku tahu letihnya mengharapkan sesuatu yang tanpa kepastian! tapi aku tak bisa memaksakan untuk menyukainya! Butuh waktu untuk itu!” nadanya meninggi. “Dan inilah caraku untuk menunjukkan padanya,bahwa...” imbuhnya. Kali ini nada suaranya lebih tenang. Tetapi ia memutus perkataannya. Seakan enggan meneruskan. Dia terdiam lama dengan kepala tertunduk. lalu menyambung lagi;
“bahwa bukan dia yang aku harapkan..” terdengar lirih.
Hmm...sepertinya aku sedikit memahami apa yang terjadi. Situasi ini situasi yang ‘muram’. Semuram langit bulan desember.

“hahh..! ok,ok...tidak ada terdakwa dalam kasus macam ini. kau dan gadis itu hanyalah ‘korban’!”. katanya. “ korban perasaan,” ia menambahkan.

***

Aku terpelanting lagi di tanah keras dan rata ini,ketika pemuda itu kembali berebut benda bundar menggelinding. Aku menggenang lagi,menjadi satu kesatuan dengan titik-titik air yang juga turun dari mendung.
Aku,setitik gerimis yang menjadi saksi bisu dari pembicaraan-pembicaraan itu. Banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Aku hanya tahu bahwa gadis yang kemarin lusa itu sama sepertiku yang masih menjadi serpih halus gerimis. Ada,terasa,tapi tidak terlalu dipedulikan. Bahkan tidak di harapkan. Aku jadi kasihan padanya. Seandainya bisa,aku akan menceritakan padamu bahwa pemuda yang kau harapakan untuk peduli denganmu,ternyata mengharapkan orang lain untuk peduli dengannya.
Sepertinya kau harus menjadi rinai hujan agar dia sadar dan peduli akan kehadiranmu. Atau setidaknya menjadi rintik gerimis sepertiku hari ini yang bakal jatuh di rambutnya...
Walaupun...

Walaupun nantinya kau akan kesakitan karena jatuh terpelanting di tanah yang keras dan rata ini....

-fin-