Sunday, May 27, 2012

H.O.M.E

 

"Another summer day,Has come and gone away... In Paris and Rome, But I wanna go home...Mmmmmmmm.."(Home, by: Michael Buble) 

.... 

Home. House.secara harfiah memang semua artinya merujuk pada suatu benda fisik berupa bangunan dengan tembok, atap, pintu, dan jendela. dan dalam bahasa kita itu adalah "RUMAH". hanya "RUMAH". tetapi satu kata itu memiliki penafsiran yang beragam. bahkan mendalam. Mungkin anda juga pernah mendengar bahwa "HOME" dan "HOUSE" memiliki penafsiran yang berbeda. "HOUSE" adalah kata yang merujuk pada bentuk fisik dari rumah itu sendiri. seperti yang telah disebutkan sebelumnya. sebuah bangunan dengan tembok. atap,pintu, dan jendela. tetapi "HOME" lebih mengarah pada makna psikis dari rumah itu sendiri. Umm..yaah...memang sedikit sulit untuk mendeskripsikannya. 

 

Makna "Home" lebih cenderung kepada isi sebuah rumah. isi? apakah kursi, meja, ataupun perabot-perabot indah di rumah? ooh..tentu saja bukan! isi yang dimaksud adalah orang-orang yang ada di dalamnya. "Keluarga":). itulah mengapa dalam bahasa inggris "pulang" adalah "go home". masih sulit memaknainya? bagaimana dengan peribahasa ini; "A House is build by hand,but a home is build by heart" (semoga penulisan bahasa inggrisnya tidak salah..:S) atau kalau ingin lebih dramatis, dengarkan saja lagu dari sepenggal lirik di atas..:D 

.... 

bicara soal rumah, saya selalu tertarik dengan sesuatu yang berkaitan dengan rumah. mulai dari bentuk rumah itu sendiri, sampai dengan desain interior maupun eksteriornya. rumah dan segala tetek bengeknya selalu jadi topik menarik bagi saya. bahkan sewaktu masih SD dulu, saya bercita-cita ingin menjadi arsitek(namun akhirnya cita-cita itu pupus karena ternyata saya kelewat payah dalam matematika..hahaha..:P). namun walaupun cita-cita itu pupus, sampai saat ini rumah selalu membuat saya tertarik. apabila saya dalam perjalanan ke suatu tempat, entah itu pergi ke luar kota, atau sekedar di dalam kota bahkan di dekat-dekat rumah saya sendiri, saya selalu memperhatikan rumah-rumah yang saya temui di perjalanan. sambil memperhatikan, saya mulai berkhayal dan berpikir. ketika saya melewati rumah mungil dengan halaman yang luas, berumput rapi dan penuh tanaman saya berkhayal; "suatu saat nanti, ketika aku telah membangun kehidupanku sendiri, aku ingin punya rumah seperti ini". kemudian saya berjalan lagi, dan menemukan rumah yang lain, rumah yang berdiri megah, bertingkat, berpagar tinggi dengan pilar besar bak kastil kerajaan, khayalan yang tadi berganti lagi: "hmm..tapi tidak ada salahnya juga punya rumah model begini..". begitu seterusnya. khayalan itu terus berganti ketika saya menemukan rumah-rumah lain yang menurut saya menarik untuk dikhayalkan. tidak hanya berkhayal. saya juga selalu berpikir. atau lebih tepatnya membayangkan. ketika saya melewati rumah bergaya kuno dengan arsitektur peninggalan belanda, saya membayangkan tentang apa yang ada di dalam rumah itu. apakah semua barangnya juga kuno? apa saja ruang-ruang yang ada di dalamnya? apakah ada banyak ruang? apakah suasana di rumah itu hangat? kemudian, bagaimana rasanya apabila aku yang memiliki rumah itu? bagaimana jika aku yang tinggal di sana? apakah aku akan memiliki kamar sendiri? dan bagaimana nantinya aku akan menata kamarku? dan apakah aku punya cukup banyak ruang atau cukup luas ruang untuk menikmati waktu-waktu sendiriku? seandainya saja saya bisa jadi "invisible" dan dengan mudahnya bisa keluar-masuk untuk mengobservasi apa yang ada di dalam rumah-rumah itu. :D 

.... 

entah mengapa saya selalu antusias dan selalu berkhayal begini-begitu tentang rumah yang saya temui di jalan. saya juga tidak pernah keberatan apabila ada yang sekedar mengajak saya "muter-muter" tidak jelas atau istilahnya "cari angin". apalagi ke daerah yang belum pernah saya kunjungi. karena di sana pasti akan ada lagi rumah-rumah yang menarik hati. Dan ternyata, kebiasaan ini ada buruknya juga. kebiasaan ini terkadang membuat saya jadi kurang bersyukur dengan rumah saya sendiri. sering juga timbul dalam pikiran saya; "seandainya rumahku punya halaman luas berumput hijau,..seandainya rumahku megah dengan pagar tinggi yang kokoh,..seandainya juga ruang-ruang di rumahku lebih luas dan lebih banyak..." 

seandainya rumahku begini.... 

seandainya rumahku begitu... 

seandainya rumahku seperti rumahnya... 

seandainya rumah itu milikku.... 

dan "sendainya-seandainya" lain yang tidak realistis, haha..:D 

.... 

tetapi setelah kini saya hidup "sedikit" jauh dari rumah (selama ini saya tidak tinggal dirumah saya sendiri, karena saya berkuliah di luar kota yang jaraknya hanya satu jam dari kota tempat rumah saya)ada satu hal yang saya mengerti. apalagi setelah tahu betapa sedihnya apabila mereka (teman-teman kampus yang indekos jauh sekali dari kampung halamannya) mulai merasa rindu dan kemudian tiba-tiba semua yang ada di sekitarnya terasa asing, dan ketika mereka ingin bertemu dengan keluarga untuk melepas rindu,ternyata tidak bisa pulang. terlebih lagi ketika mereka ada dalam keadaan tertekan dan butuh dukungan keluarga. saya yang tinggal di rumah saudara saja terkadang masih merasa seperti itu,apalagi bagi mereka yang hanya indekos? satu hal yang akhirnya bisa saya mengerti mengenai rumah itu adalah; 

 

 "rumah bagi saya adalah "HOME" bukan "HOUSE". rumahmu adalah tempat dengan pintu yang selalu terbuka untukmu. selama apapun kamu meninggalkannya, sejauh apapun kamu pergi darinya, tempat yang selalu menunggumu pulang, dan tempat yang tidak akan pernah membuatmu merasa asing" 

 ....

 home sweet home 

rumahku, surgaku 

baiti, jannati...:) 

....

 "And I’m surrounded by A million people

 I Still feel all alone Oh, let me go home 

Oh, I miss you, you know"(Home, by: Michael Buble)

 

Tuesday, October 4, 2011

M I M P I; Sebuah satire asal tulis untuk diri sendiri...

 

Prologue:
Mimpi. Impian. Bermimpi.
Salah satu hal yang semua orang bisa melakukannya. Tanpa perlu skill khusus. Tanpa perlu sekolah tinggi sampai botak. Dan yang paling penting; tidak perlu mengeluarkan duit se-sen pun.

***

Mimpi. Kata kunci yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap. coba saja,ada berapa banyak judul buku ataupun novel best seller yang berbasis mimpi atau impian penulisnya? Dan impian yang tertuang di atas kertas itu pada akhirnya menuju pada pencapaian yang gemilang. Menginspirasi banyak orang,dan menumbuhkan mimpi-mimpi baru.
Dan sebuah impian bahkan bisa mengubah dunia...

Tetapi terkadang kita merasa mimpi-mimpi yang telah kita rencanakan dan rancang sedemikian rupa,pada akhirnya harus kita kubur lagi dalam-dalam. Atau mungkin impian itu yang lari meninggalkan kita. Bisa juga impian itu mati suri. Dan bahkan benar-benar mati. Lalu hilang. Mengapa?
Ada seseorang yang menjawabnya demikian;
“karena saya tidak bisa menemukan jalan untuk menuju ke impian itu. Karena saya dipaksa untuk berbelok ke arah yang bukan menuju impian saya. Dan mimpi itu perlahan menjauh,lalu hilang. Saya kehilangan cara untuk mewujudkannya”
Bagaimana dengan anda? Jawaban apa yang akan anda berikan?

Pernyataan di atas tadi tentunya adalah pernyataan ironis dari orang yang kehilangan mimpinya. Orang yang sebenarnya tidak salah jalan. Tapi dia tidak menemukan jalan untuk menuju ke mimpinya. Dia dipaksa atau mungkin terpaksa berbelok ke jalan lain yang mengantarnya ke suatu tempat yang asing. Dan dia jadi tidak punya cara untuk mewujudkan impiannya.

Lalu tibalah dia di sana. Tempat yang sama sekali asing. Menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kebingungan. Tidak tahu apa-apa. Lalu pada akhirnya hanya bisa menundukkan kepala. Sedih. Dia kehilangan impian lamanya. Seperti orang patah hati...

Padahal,bila diibaratkan sumber daya,impian itu termasuk sumber daya yang dapat diperbarui. Alias tidak akan ada habisnya. Seperti air,sinar matahari,dan udara. Gratis,tidak pernah habis,dan ada di mana-mana.

Ya,..
Gratis,tidak pernah habis,dan ada di mana-mana. Kemana pun kita pergi,di mana saja kita tersesat,kita akan selalu medapatkan udara. Sebesar apapun volume udara yang kita hirup juga tidak akan membuatnya habis,dan tidak akan ada yang akan menarik bayaran dari itu semua.

Begitu juga impian. Jalan yang berbeda,dan tempat yang asing,mungkin membunuh impian lama kita. Tetapi impian bisa ditemui di mana saja. termasuk tempat yang asing itu. Dan ternyata di tempat yang asing itu dapat ditemukan mimpi-mimpi yang baru. Yang siap untuk diwujudkan dengan cara yang baru.

Mimpi-mimpi untuk diri sendiri. Juga mimpi-mimpi untuk orang lain disekitar kita,..
orang-orang yang berarti...

***
Epilogue:
Tidak perlu menertawakan impian orang lain,karena setiap impian itu tetap indah bagi yang memimpikannya...:)

 

Wednesday, June 22, 2011

GERIMIS AWAL DESEMBER

Awal Desember. Langit mengganti lazuardinya jadi putih kelabu,menyembunyikan matahari yang sedang malas. Membuatnya jadi muram. Udara terasa lebih dingin. Bumi yang ini jadi basah. Sementara di belahan bumi lain jadi putih di mana-mana. Orang-orang jadi malas beraktivitas pula. Mereka lebih suka di rumah untuk tidur dan orang-orang dibelahan bumi lain itu akan duduk didepan perapian beralaskan karpet bulu yang hangat. Tetapi aku heran dengan mereka dibawah sana. Berlarian ke sana kemari,menendang,menggulirkan sesuatu yang bundar menggelinding di tanah yang keras,rata dan halus. Sementara disekelilingnya orang-orang yang lain bersorak-sorak,tak peduli dengan hembusan angin desember. Dan kejadian ini bukan yang pertama kali. Sudah beberapa hari ini aku menyaksikan hal yang sama. Bahkan ketika aku mulai ‘bertugas’,mereka seakan tak peduli dengan kehadiranku!

Malam ini aku kembali melaksanakan tugasku. Tepatnya masih belum. Aku masih di atas,dan terlihat dari sini mereka lagi-lagi ada di tanah keras dan rata itu. Tanah keras dan rata. Huuh! Aku paling benci apabila harus jatuh di tanah macam itu. Menyakitkan. Aku akan terpelanting lalu menggenang untuk waktu lama. Lebih parahnya lagi aku akan lebih sering terinjak-injak. Sepertinya malam ini aku akan jatuh disana lagi. Sesekali aku ingin jatuh ditanah yang gembur,lekas terserap,melewati siklus yang selalu sama dan kadang tersangkut di berbagai tempat. Terserap Akar tumbuhan,lalu keluar lagi lewat pucuk dedaun di pagi hari. Jalan yang berliku,namun akan kembali lagi menguap ke langit. Siapa aku? Apa pekerjaanku? Aku benda yang mati. Sebentuk zat. aku adalah setitik air yang terkadang menjelma sebagai rintik kecil gerimis,atau rinai hujan. Tapi beberapa hari ini aku masih melakukan tugas sebagai gerimis. Lebih kecil daripada gerimis. Aku tengah menjelma serpihan halus gerimis yang mudah ditiup angin. Desember masih dini. Belum saatnya menjadi rinai hujan.
Perintah dari langit sudah terdengar. Sudah waktunya terjun bebas. Semoga kali ini aku tidak terbanting ditanah keras itu. Dan...
Aku mendarat di permukaan yang lunak,berwarna hitam pekat dan menjuntai panjang. Aku tahu. Ini rambut di kepala seseorang. Seorang gadis.

***

“sudah mulai gerimis,” pemuda di sebelah gadis ini menggumam sambil menengadahkan tangannya.
“ya,aku tahu”. Jawab gadis berjaket ini. Hei! Seharusnya kau pakai tudung jaketmu! Karena aku dapat membuatmu pusing. Tapi aku sudah terlanjur mendarat di rambutmu. Semoga kau tidak pusing.
“masih mau disini?” tanya pemuda itu.
“pertandingan belum selesai,masih baru masuk babak kedua...” jawab gadis itu. Kali ini ia merapatkan jaketnya. Rupanya kau merasa dingin juga.
“ayo geser sedikit,tribun ini tak beratap...bagaimana kalau hujan?,” pemuda itu mengajaknya bergeser.
“ah! Masih gerimis halus...belum hujan kok...lagipula aku tidak akan bisa melihatnya dengan jelas kalau bergeser,” tolaknya.
“hhhh,” pemuda itu menghela nafas. “memangnya dia tahu kalau sejak kemarin kau nonton?”
“aku juga tidak tahu,sih...”
“jadi kau hanya sekedar berspekulasi? Nonton sambil dingin-dingin begini tanpa kepastian...? wuih! Dramatis sekali!” ujar pemuda itu sinis.
“yaah...setidaknya aku sudah memberitahunya sejak kemarin,bahwa aku akan datang melihat pertandingannya...”
“ck! Hanya memberitahu lewat jejaring sosial seperti itu bukan jaminan!”
“tapi dia membalas pesanku!”
“oh ya? Lalu apa katanya?”
“...’baiklah,lihat saja kalau memang kau ingin lihat’...”
“hanya itu? Kedengarannya datar-datar saja. Tidak ada kesan antusias dalam kalimatnya...”
“jadi maksudmu dia tidak peduli dengan kehadiranku? Dia tidak penasaran dan mencariku?”
“entahlah...” jawab pemuda itu.
Gadis itu terdiam. Lalu menghela nafas berat.
“ aku harap dugaan itu juga masih spekulasi. Bisa iya,bisa tidak. Tapi aku harap tidak...” ujar gadis itu dengan tatapan menerawang.
“semoga saja. Tetapi,apa kau hanya akan berdiam diri seperti ini terus? Terus-terusan ‘berbicara’ padanya lewat dunia maya? Padahal pesan yang kau kirim pun hanya sekedar basa-basi!’”
“bagaimana menurutmu? Aku perempuan,ruang gerakku terbatas. Tidak mungkin aku langsung menyatakan perasaan kan?”
“terbatas? Itu kan hanya pemikiran konservatif-mu! tidak ada salahnya juga kau bertindak,menunjukkan sedikit eksistensi-mu padanya. Berdiam terus juga percuma dan melelahkan! Dia bukan pangeran yang akan menghampirimu dengan sendirinya dan datang tiba-tiba seperti dongeng!”
“jadi apa yang harus aku lakukan?”
“lakukan dengan cara yang sesuai dengan pemikiran konservatif-mu itu!” jawabnya. Sepertinya kesal.
Gadis itu terdiam lagi. Kali ini seperti memikirkan sesuatu. sebenarnya situasi macam apa yang aku saksikan saat ini? ada apa dengan gadis ini? mengapa matanya tak lepas menatap orang-orang yang berebut benda bundar itu?
“GOLLLL!!!!!!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari orang-orang yang bersorak itu. Kali ini seruan itu lebih keras lagi.
“ lihat! Tim-nya menang! dia masuk semifinal! Lusa aku masih bisa melihatnya!” gadis yang sejak tadi diam terpaku,kini melonjak-lonjak. Membuat posisiku goyah,dan perlahan aku merosot mengikuti helai rambutnya,lalu akhirnya...
Aduh...Sakit!
Aku jatuh lagi di tanah yang keras dan rata.

***

Masih di awal desember. Lusa setelah malam kemarin. Seperti biasa aku masih di awan menunggu perintah dari langit. Kali ini aku akan menjadi rintik gerimis. Dan lagi-lagi aku harus bertugas di tempat yang gaduh ini. semoga aku tidak langsung terjatuh di tanah itu lagi. Aku berharap mendarat di atas permukaan yang lunak seperti rambut gadis yang kemarin. Hei,bagaimana kabar gadis itu ya? Bukankah dia akan datang lagi? Tetapi,siapa sebenarnya yang dia lihat di sini? Apakah seseorang di antara belasan orang-orang yang berebut benda bundar itu?

***


Lagi. Aku terjatuh di kepala seseorang. Tetapi rambutnya tidak menjuntai seperti gadis itu. Siapa lagi ini? oh! Rupanya seorang laki-laki,salah satu diantara orang-orang yang berebut benda bundar itu. Karena kali ini cukup deras,mereka berhenti. Akhirnya mereka sadar jugaakan keberadaanku.
“ aduh! Di tunda,deh!” nampaknya ia mengeluh karenaku. maaf,ini sudah perintah.
“ maklum-lah...musim hujan!” celetuk pemuda disebelahnya. “hei! Lihat!” lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh pemuda ini. hei! Hati-hati! Aku bisa terpelanting ke tanah itu!
“ iya. Aku tahu!” jawabnya.
“ dia selalu menonton sejak awal kita bertanding!”
“ aku juga tahu.” Jawabnya datar.
“ hmm..kau tidak menghampirinya? Lumayan kok...”
Pemuda ini tersenyum. Sesekali ia memandang ke arah seberang. Aha! Aku tahu! Mereka pasti membicarakan gadis yang kemarin. Apa benar orang ini yang gadis itu lihat?
“ entahlah...”
“ menurutku dia cuma ingin kau tahu...”
“ tahu apa?”
“ jangan pura-pura bodoh! Masa kau tidak bisa merasakan?”
“ ya,ya,ya! Aku tahu kok! Tapi apa kamu yakin,kalau dia...”
“ dia punya perasaan padamu!” potong pemuda disebelahnya.
“ tetapi dia hanya diam saja. Dia hanya mengirimkan pesan-pesan yang isinya basa-basi. Tidak ada yang berarti! Yaah,terkadang dia memberi semangat padaku. Aku juga merasa sedikit aneh...”
“ dia muncul tiba-tiba di hadapanmu,membuatmu heran, dan dia tidak pernah absen melihat kita bertanding,walau hujan sekalipun! Hei,asal kau tahu ya...aku sering memergokinya melihat ke arahmu saat kita break!”
“ benarkah? Lalu kenapa dia tidak menyapa atau menghampiriku?”
“ mungkin malu. Beberapa perempuan merasa ruang geraknya terbatas untuk mengekspresikan perasaannya saat ia menyukai laki-laki. Apalagi kau tak mengenalnya! Dan pesan-pesan yang dia tulis itu adalah cara yang dia pilih untuk berkomunikasi denganmu!”
“ begitu ya? Lalu aku harus bagaimana? Sementara aku mengharapkan seseorang yang lain untuk melihatku bertanding hari ini...,”
“hufth! Rupanya kau masih mengharapkannya! Pantas saja kau tidak peduli dengan gadis di sana itu!”
“kau dan gadis itu sama saja. Sama-sama mengharapkan seseorang yang tidak pasti. Dia mengharapkanmu,kamu mengharapkan orang lain. Padahal orang yang diharapkan itu sama-sama tak jelas! Yaah...dia pasti sakit hati bila tahu kau tidak peduli dengannya...”
“jadi menurutmu aku bersalah? Aku orang yang jahat? Aku tahu sakitnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan,aku tahu letihnya mengharapkan sesuatu yang tanpa kepastian! tapi aku tak bisa memaksakan untuk menyukainya! Butuh waktu untuk itu!” nadanya meninggi. “Dan inilah caraku untuk menunjukkan padanya,bahwa...” imbuhnya. Kali ini nada suaranya lebih tenang. Tetapi ia memutus perkataannya. Seakan enggan meneruskan. Dia terdiam lama dengan kepala tertunduk. lalu menyambung lagi;
“bahwa bukan dia yang aku harapkan..” terdengar lirih.
Hmm...sepertinya aku sedikit memahami apa yang terjadi. Situasi ini situasi yang ‘muram’. Semuram langit bulan desember.

“hahh..! ok,ok...tidak ada terdakwa dalam kasus macam ini. kau dan gadis itu hanyalah ‘korban’!”. katanya. “ korban perasaan,” ia menambahkan.

***

Aku terpelanting lagi di tanah keras dan rata ini,ketika pemuda itu kembali berebut benda bundar menggelinding. Aku menggenang lagi,menjadi satu kesatuan dengan titik-titik air yang juga turun dari mendung.
Aku,setitik gerimis yang menjadi saksi bisu dari pembicaraan-pembicaraan itu. Banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Aku hanya tahu bahwa gadis yang kemarin lusa itu sama sepertiku yang masih menjadi serpih halus gerimis. Ada,terasa,tapi tidak terlalu dipedulikan. Bahkan tidak di harapkan. Aku jadi kasihan padanya. Seandainya bisa,aku akan menceritakan padamu bahwa pemuda yang kau harapakan untuk peduli denganmu,ternyata mengharapkan orang lain untuk peduli dengannya.
Sepertinya kau harus menjadi rinai hujan agar dia sadar dan peduli akan kehadiranmu. Atau setidaknya menjadi rintik gerimis sepertiku hari ini yang bakal jatuh di rambutnya...
Walaupun...

Walaupun nantinya kau akan kesakitan karena jatuh terpelanting di tanah yang keras dan rata ini....

-fin-

 


Monday, August 16, 2010

Reunion

Selasa, 17 Agustus 2010

Reunion


Kemarin,17 Agustus 2010. ada apa? pastinya hari peringatan kemerdekaan RI ke 65. Hmm... bukan hanya itu sebenarnya...untuk pertama kalinya kemarin aku hadir di acara buka bersama plus reuni alumni SD (tahun sebelumnya aku tidak hadir). dan,dalam hati aku hanya berkata ; "Ha,ha...There're so much changes on them!" (sambil bengong) benar-benar bikin pangling! bahkan aku sempat mengalami 'amnesia ringan' pada beberapa teman..."ehmm,siapa ya?" kata-kata itu yang terlontar ketika saya terkena serangan 'amnesia ringan' itu..hehe.. ^^

Perubahan yang ada pada mereka setidaknya menjadi suatu 'kejutan' bagi saya. tidak berlebihan rasanya kalau saya bilang kejutan. mengingat ketika SD dulu kami begitu berbeda dari kecil sekarang malah tinggi besar,yang dulu kurus sekarang gemuk,yang dulu gendut sekarang langsing,yang dulu culun sekarang makin cakep-cakep (ho,ho...termasuk saya juga-kah?),yang dulu di 'underestimate',ternyata mampu melakukan pencapaian 'mengagumkan' yang tidak pernah saya sangka,ada juga yang mengalami perubahan drastis (ini nih,penyebab 'amnesia ringannya') tapi ada juga yang statis. hanya satu perubahan yang pasti; makin tinggi semua! ha,ha,ha...^^. bicara soal siapa-siapa yang dulu di underestimate oleh saya dan (mungkin) juga yang lainnya membuat saya memetik pelajaran dari situ ; "nasib benar-benar di tangan Tuhan".kita tidak bisa menentukan nasib seseorang walau hanya 'memperkirakannya' saja. Tuhan akan memberikan jalan yang tidak terduga untuk memutar roda nasib seseorang. jadi lebih baik atau lebih buruk. dan apa yang kita lihat di masa lalu pada mereka bukan jaminan yang mutlak untuk masa depannya (hari ini). Hmm...apa kata-kata saya sulit dimengerti? tapi saya harap anda bisa menafsirkannya sendiri.^^

Kembali ke acara.

Teras belakang nan asri itu tadinya begitu lengang. hanya ada saya dan tuan rumah. Tapi beberapa saat kemudian tempat itu jadi 'ramai'. ramai oleh mereka,dan ramai oleh cerita-cerita masa lalu yang dibumbui dengan tawa. bahkan aku saja lupa kalau ada cerita-cerita semacam itu dulu. Tadinya saya tidak berharap mereka ingat tentang saya. Namun ternyata mereka ingat juga. " oh,iya kamu dulu nangisan ya, Me!" celetuk seorang teman. Ho,ho. terkuak sudah. malu juga kalau ingat. tapi tak apalah. aku tidak akan memasukkan hal itu itu dalam daftar kenangan pahit. hal itu lebih tepat di sebut 'kenangan asam',layaknya jeruk. walaupun asam,namun masih dapat kita nikmati. ha,ha,ha...^^ tidak perlu membuang kenangan segala. terkadang kenangan yang dulu kita anggap pahit ataupun memalukan tidak serta merta benar-benar pahit. rasanya akan berubah jadi manis bila kita memandangnya dari sisi berbeda. atau setidaknya jadi asam saja. pokoknya masih bisa dinikmati!^^

saya sendiri tidak begitu banyak mengobrol. bukan maksud hati ingin berlagak berdiam diri. dasarnya saya memang sulit bicara. eit,tapi bukan gagap atau bisu! hanya saja saya bukan orang yang luwes dalam lisan. saya lebih mudah merangkai kata lewat tulisan.Tapi rasanya cukup bagi saya melihat dan bertemu mereka,lalu mendengar cerita-cerita mereka tentang masa lalu,ataupun cerita tentang kehidupan mereka sekarang. rasanya menyenangkan ^^.

begitulah,'blue print' yang tercetak di otak saya tentang event 'buber+reuni' waktu itu. sayangnya saya tidak ada di sana saat acara benar-benar berakhir karena harus pulang duluan,(tapi untungnya saya sempat ikut foto-foto...hi,hi,hi..^^).

SUKSES SELALU UNTUK KALIAN SEMUA!^_^